Patriotisme Tjipto Mangoenkosoemo Bagian II

Patriotisme Tjipto Mangoenkosoemo
Patriotisme Tjipto Mangoenkosoemo

oleh :  Airlangga Pribadi, Pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga

 

Baca Sebelumnya  : Patriotisme Tjipto Mangoenkosoemo Bagian I

 

Era Kemajoean

Selain pergeseran penting dalam pelayanan-pelayanan pemerintah di bidang ekonomi, ekspansi perdagangan, pertanian, kesehatan dan pengobatan maka perluasan dalam pendidikan modern merupakan salah satu penanda utama diera politik etis ini.

Program pendidikan modern ini oleh kolonial Belanda melayani dua tujuan penting yaitu untuk memperoduksi jenis tenaga kerja yang diperlukan oleh negara maupun kegiatan komersial privat juga untuk mengangkat pribumi dan menuntun mereka dalam program asimilasionis bagi persatuan Timur dan Barat.

Dalam kondisi demikianlah maka zaman yang disemangati oleh penanda “kemajoean” ini memberikan akses bagi kaum bumiputera untuk masuk dalam khasanah literari modern berbahasa Belanda, memfasilitasi mobilitas sosial bagi lapisan kalangan priyayi namun tetap dalam lingkup stratifikasi sosial yang diskriminatif berdasarkan pertemuan antara pembagian berbasis ras dan kelas di Hindia Belanda (Takeshi Shiraishi 1997).

Saya ingat M. Ricklefs mengutarakan bahwa pada zaman baru ini pada satu sisi tidak ada data yang meyakinkan untuk menunjukkan kontribusi era baru ini bagi kesejahteraan rakyat maka disisi yang lain lapisan tipis mobilisasi sosial berbasis pendidikan mulai muncul dikalangan kaum priyayi muda akibat ekspos mereka terhadap pendidikan modern.

Seperti diutarakan Takeshi Shiraishi (1997) dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 bahwa pengalaman kalangan priyayi muda masuk dalam pendidikan kolonial membentuk dua unsur yang fundamental yaitu: Pertama, pendidikan Barat ini memberikan mobilitas sosial dalam bangunan tatanan diskriminatif apartheid kolonial yang tetap dijaga oleh pemerintahan kolonial Belanda. Dengan demikian bumiputera adalah tetap bumiputera secerdas dan seluas apapun cakrawala pengetahuan yang mereka miliki.

Mereka tetap berada pada posisi pinggiran dalam hierarkhi kelas-ras kolonial Belanda. Inilah yang kemudian yang menjadi landasan solidaritas sosial mereka sebagai kalangan inteligensi baru bumiputera.

Kedua, pengalaman mengecap bangku sekolah modern dan menjadi profesional bergaji membentuk pengalaman, nilai-nilai dan wawasan pengetahuan yang membedakan mereka dengan generasi orang tua mereka lapisan kelas feodalis priyayi bumiputera yang masih berpegang pada tradisi lama yang hierarkhis. Pembelajaran mereka atas modernitas dalam pendidikan Belanda menggugah kesadaran meraka akan realitas dunia yang lebih luas daripada sekedar cangkang budaya Jawa lamanya.

Seperti diutarakan oleh Takeshi Shiraishi bahwa kondisi demikian memang tidak membuat mereka menjadi Barat dan Eropa serta meninggalkan secara menyeluruh nilai-nilai dan norma tradisi. Namun demikian wawasan baru dibalik ide “kemajoean” menjadikan tradisi telah kehilangan makna usangnya bagi mereka, dan makna dari tradisi, kode kultural maupun wacana tradisional Jawa mereka reinterpretasi kembali dengan cara pandang baru modern. Pendeknya tradisi berdampingan dan saling berdialog dengan visi baru modernitas yang mereka pelajari dan alami.

Seperti diutarakan Yudi Latif (2011) dalam Negara Paripurna bahwa dari pengalaman paradoks mobilisasi dan peminggiran sosial yang kalangan inteleginsia baru ini maka kebangkitan semangat resistensial kaum pergerakan terhadap tatanan feodalisme dan kolonialisme muncul. terbitlah kehendak dari para intelegensia muda Bumiputera untuk menemukan identitas baru yang menjadi batas imajiner antara diri mereka dan kaum ningrat maupun prijaji konservatif feodalis.

Bersamaan dengan kehendak itu, maka Abdul Rivai (1902) menulis sebuah artikel yang didalamnya tercipta dua penanda yaitu bangsawan pikiran (kaum intelektual muda anti feodalisme, berwawasan kosmopolit dan memiliki komitmen terhadap rakyat dan kaum bumiputera) dan bangsawan Oesoel (kaum ningrat yang masih tertambat oleh budaya konservatif-feodalistik usang). Dalam pembelahan budaya dan politik diawal abad ke-20 inilah maka Tjipto Mangoenkosoemo adalah tokoh yang mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari kaum bangsawan pikiran dengan pemikiran dan aksi-aksi politiknya.

Be the first to comment on "Patriotisme Tjipto Mangoenkosoemo Bagian II"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


X