Refleksi kesehatan Akhir Tahun 2020, Resolusi Kesehatan 2021 Rekan Indonesia Saatnya Membangun Preventif Dan Promotif Kesehatan Dengan Serius

Tahun 2020 segera berakhir, tahun yang penuh dengan situasi ketidakpastian akibat hantaman pandemi covid19 yang mewabah di hampir seluruh dunia. Pandemi Covid-19 yang begitu cepat mewabah ke semua negara telah mematikan hampir seluruh sendi dasar kehidupan berkebangsaan. Ekonomi porak poranda, sosial dan budaya tercecer berserakan disapu pandemi dari Wuhan yang sampai kini masih tak jelas kapan pergi dan akan menuju normal kembali.

Negeri kita pun tidak luput dari hantaman pandemi covid19, setahun sudah negeri ini diporakporandakan oleh wabah yang disebabkan oleh virus cov-2 ini. Setelah kasus Covid-19 pertama diumumkan pada Maret 2020, situasi pandemi di Indonesia terus memburuk. Jumlah kasus harian mengalami peningkatan dan Indonesia terus mencatatkan rekor-rekor baru terlepas dari upaya penanggulangan yang telah dilakukan oleh pemerintah mulai dari pembatasan sosial sampai pada pelaksanaan parsial lockdown di beberapa wilayah di Indonesia.

Pada penghujung tahun 2020 ini, di seluruh dunia korban positif COVID-19 telah menyentuh angka hampir 80 juta orang. Korban yang meninggal dunia sekitar 1,8 juta orang. Sementara di Indonesia, dinyatakan positif COVID-19 hampir menyentuh diangka 700.000 orang dan yang meninggal dunia lebih kurang 20.500 orang. Kita semua berduka. Rekan Indonesia, menyampaikan duka cita yang mendalam bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat COVID-19. Rekan Indonesia juga menyampaikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pahlawan kemanusiaan di rumah sakit, para dokter, perawat, pekerja kesehatan, dan para relawan kesehatan yang meninggal dunia dalam melaksanakan tugasnya.

Indonesia gagal dalam melakukan upaya penanggulangan cepat pada fase-fase awal pandemi. Pada saat berbagai negara telah menerapkan penutupan wilayah dan pembatasan sosial sejak awal pandemi, pemerintah Indonesia memilih untuk mengabaikan ancaman Covid-19. Pemerintah Indonesia lebih mengutamakan langkah-langkah penyelamatan ekonomi. Selanjutnya, ketika banyak negara tengah bersiap secara hati-hati untuk kembali membuka diri dari fase lockdown, pemerintah Indonesia justru secara prematur membuka ekonomi melalui implementasi kenormalan baru.

Namun demikian, ekonomi Indonesia tetap terpukul keras. Sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia, pandemi Covid-19 mengguncang keras ekonomi Indonesia. Sedikitnya 6,4 juta penduduk Indonesia telah kehilangan pekerjaan akibat Covid-19 sampai dengan Oktober 2020. Hasil survei terbaru yang melibatkan 5.000 pencari kerja menemukan bahwa 35% pekerja dipecat dan 19% dirumahkan sementara akibat Covid-19. Indonesia tengah memasuki resesi. Sedikitnya terdapat 1,64 juta penduduk miskin baru akibat Covid-19 pada akhir Juli 2020, dan jumlah ini diprediksi akan mencapai 8,5 juta pada akhir 2020.

Resolusi Kesehatan harus menjadi paling urgent. Kebulatan tekad ini harus kita mulai dengan membangun partisipasi aktif warga dalam rangka membangun upaya preventif dam promotif kesehatan. Menerapkan protokol kesehatan harus diawali dari kesadaran kolektif untuk melakukannya dengan ketat. Begitupun pemerintah dan swasta harus memprioritaskan soal kesehatan ini menjadi kebulatan tekad perencanaan perjalanan 2021 nanti.

Peran komunitas sangat vital dalam penanggulangan kebencanaan termasuk pandemi Covid-19 bagi Indonesia dengan struktur masyarakat yang kolektif. Sampai saat ini, pemerintah Indonesia telah gagal dalam mengkomunikasikan risiko dan langkah pencegahan secara efektif. Yang muncul justru tidak konsistensinya pemerintah dalam menerapkan kebijakan baik di tingkat pusat ataupun daerah. Misalkan, terkait dengan lemahnya implementasi kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

Pemerintah perlu secara aktif melibatkan masyarakat. Sistem komunitas dapat membantu pemerintah dalam mengidentifikasi kebutuhan khusus dari masyarakat lokal dan kelompok-kelompok rentan. Kelompok rentan seperti keluarga miskin atau masyarakat yang tinggal di pemukiman kumuh ibu kota, membutuhkan dukungan khusus yang tepat sasaran. Kelompok-kelompok tersebut harus dijangkau secara efektif oleh program bantuan sosial dari pemerintah. Mereka adalah lapisan masyarakat yang tidak saja lebih rentan untuk tertular virus, namun juga cenderung untuk tidak mematuhi protokol kesehatan karena alasan ekonomi.

Sistem komunitas berperan penting untuk menjembatani antara kepentingan pemerintah dan kebutuhan kelompok rentan. Sistem komunitas dapat mempromosikan upaya penanggulangan Covid-19 yang dicanangkan oleh pemerintah, membantu proses distribusi bantuan sosial, serta menerapkan model pengawasan berbasis masyarakat untuk menekan risiko transmisi lokal. Integrasi antara sistem kesehatan masyarakat dengan penguatan partisipasi masyarakat dapat membantu kelompok rentan untuk melindungi kesehatan mereka. Misalkan saja, proses pendampingan keluarga miskin terkait pemenuhan kebutuhan pokok selama masa isolasi melalui program bantuan sosial dari lembaga swadaya masyarakat ataupun dukungan pemerintah, dan menjamin bahwa bantuan dapat dinikmati langsung oleh masyarakat miskin.

Pemerintah dapat mengadopsi model dukungan sosial berbasis masyarakat untuk mengidentifikasi dengan tepat kebutuhan khusus kelompok-kelompok rentan. Pemerintah dapat memanfaatkan sistem tersebut untuk proses penyaluran bantuan sosial sehingga menjadi lebih tepat sasaran. Jangka panjang, adopsi sistem tersebut dapat mendorong kohesi sosial, mengurangi fragmentasi sosial dan menguatkan jaringan sosial untuk mengerahkan masyarakat apabila terjadi bencana atau kondisi gawat darurat pada masa datang.

Sangat penting bagi kita untuk kembali pada hal yang mendasar yaitu penerapan secara berkelanjutan penggunaan masker dan praktik cuci tangan yang baik oleh seluruh warga Indonesia dan terus meningatkan untuk menjaga jarak. Pemerintah membutuhkan dukungan dari segala lapisan masyarakat untuk menjamin bahwa seluruh warga negara Indonesia mematuhi upaya pencegahan tersebut.

Selamat tinggal tahun 2020 yang penuh dengan ketidakpastian, dan selamat datang tahun baru 2021 yang memberikan harapan.

Jakarta, 31 Desember 2020

Kolektif Pimpinan Nasional

Relawan Kesehatan Indonesia

(KPN Rekan Indonesia)

 

Agung Nugroho,                                                                                               Adjie Rimbawan,

Ketua Nasional                                                                                                Sekretaris Nasional

Be the first to comment on "Refleksi kesehatan Akhir Tahun 2020, Resolusi Kesehatan 2021 Rekan Indonesia Saatnya Membangun Preventif Dan Promotif Kesehatan Dengan Serius"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


X