Anies Ditengah Deja Vu Lonjakan Covid-19

Apresiasi Anies Baswedan kepada Warga DKI
Apresiasi Anies Baswedan kepada Warga DKI

Oleh : Agung Nugroho, Ketua Nasional Rekan Indonesia

Masih ingat ketika Anies Baswedan menerapkan Pemberlakuan PSBB ketat ini dimulai September 2020 silam yang lebih dikenal dengan “Menarik Rem Darurat” ?. Saat itu Angka pasien positif Covid-19 terus menanjak hingga mencapai total 52.321 orang per 11 September. Jokowi juga sudah menyampaikan kepada menterinya agar mendahulukan kesehatan ketimbang ekonomi.

Meski kebijakan Anies Baswedan seuai dengan kebijakan Presiden Jokowi, namun saat itu berbondong-bondong para menteri Jokowi ini melakukan serang dengan mengkritik kebijakan Anies Baswedan dalam menarik rem darurat tersebut.

Kita masih ingat, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sebagian besar kegiatan perkantoran akan tetap berlangsung melalui kebijakan jam kerja yang fleksibel. Padahal, Anies akan menutup seluruh perkantoran, kecuali 11 sektor.

Dalam rapat daring para menteri koordinator dengan Anies pada 10 September 2020, Airlangga juga mengkritik pengumuman PSBB total karena menimbulkan ketidakpastian dan berdampak pada merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG). Sehari setelah Anies mengumumkan rencana itu, IHSG pada 10 September anjlok 257,9 basis point atau 5,01 persen.

Kita juga masih ingat, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan juga mengkritik pasar saham yang anjlok senilai dengan Rp 300 triliun. Menurut dia, pernyataan Anies soal kapasitas tempat tidur isoalsi dan ICU yang menipis telah menimbulkan kepanikan.

Demikian juga Menteri Keuangan Sri Mulyani ikut-ikutan menyerang Anies dengan memperkirakan PSBB total Jakarta bisa membuat perekonomian kuartal ketiga tahun ini semakin terjal.

Deja Vu lonjakan angka Covid-19 Juni 2021 mengulang kembali apa yang terjadi September 2020 lalu, namun yang membedakan untuk lonjakan covid-19 Juni 2021, Anies Baswedan belum melakukan langkah untuk menarik rem darurat demi menekan angka Covid-19 yang tiap hari bertambah.

Apakah dengan belum ditariknya rem darurat lalu Anies aman dari tekanan ? ternyata tidak. Selama situasi pandemi Covid-19 ini masih dipenuhi unsur kepentingan politik maka tekanan kepada Anies Baswedan tetap dilakukan meski Anies tidak menerapkan rem darurat.

Koordinator Humas Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Letkol TNI Laut M. Arifin sempat mendesak Pemprov DKI menarik rem darurat: PSBB secara ketat.

“Jakarta sekarang masih macet, bagaimana ini pemerintah provinsinya? Ini kebijakan harus sinergis saat ini. Segera lakukan PSBB seperti awal, kecuali memang mau warganya kolaps, silakan,” kata Arifin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (15/6).

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang pada September 2020 juga melakukan serangan kepada Anies Baswedan saat melakukan Rem Darurat, kini malah mendesak agar Anies Baswedan segera menarik rem darurat. Melalui Sekretaris Fraksi PSI Anthony Winza menyampaikan, rem darurat diperlukan guna menekan penularan Covid-19 yang semakin tak terkendali.

“Jangan sampai terlambat lindungi warga, segera tarik rem darurat,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 16 Juni 2021.

Anthony menilai PSBB ketat bisa meredam lonjakan kasus Covid-19 di Ibu Kota. Jumlah pasien yang terinfeksi virus corona memang melonjak sejak 9 Juni 2021. Penambahannya mencapai di atas 2 ribu orang per hari. Sepertinya PSI kehilangan panggung untuk menyerang Anies Baswedan karena tidak melakukan penarikan rem darurat, sehingga sekarang mendukung upaya Anies tahun 2021 yang dulu mereka serang.

Juni Tahun 2021 Pun Ekonomi Rontok Tanpa Anies Tarik Rem Darurat

Yang paling lucu adalah, tidak ada statemen dari 3 menteri yang pada 2020 menyerang anise karena melakukan penarikan rem darurat, padahal saat ini kondisi yang sama juga terjadi yaitu saham anjlok, dan dikuti dengan rupiah yang melemah.

Tercatat, Indeks harga saham gabungan (IHSG) tersungkur dalam tiga sesi beruntun, karena pada penutupan hari ini, Jumat (18/6/2021), IHSG kembali berakhir di zona merah. Data laman BEI menunjukkan, indeks komposit ditutup terkoreksi 1,01% atau 61,32 poin ke level 6.007,12. Indeks telah melemah sejak perdagangan dibuka dengan anjlok 0,05% atau 2,93 poin ke level 6.065,52 dari penutupan Kamis yang berada di level 6.068,45. Setelah itu IHSG terus tertekan, sehingga berkubang di zona merah dengan pergerakan di rentang 5.944,05 – 6.070,41. Dari 11 indeks sektoral IDX-IC yang tercatat di BEI, hanya sektor teknologi yang menopang IHSG dengan penguatan tipis 0,04%. Sektor industri dasar ambruk 2,2%, sementara sektor kesehatan dan transpirtasi rontok 1,99%, sektor poperti jatuh 1,88% dan sektor energi terkoreksi 1,84%.

Demikian pula dengan kurs rupiah, kurs rupiah bergerak melemah 1,72% terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir merespon naiknya kasus COVID-19 pasca Lebaran. Pelemahan kurs menurutnya menjadi indikasi bahwa pemulihan ekonomi Indonesia berisiko terganggu sehingga pelaku usaha maupun investor pesimis ekonomi tumbuh 8% pada kuartal ke II seperti yang sebelumnya diproyeksikan pemerintah. Di duga kurs rupiah terganggu akibat lonjakan kasus positif COVID-19 di Indonesia. Sebab, jika IHSG melemah, dan aliran modal keluar tidak dibendung oleh pemangku kepentingan maka rupiah akan terkena imbasnya.

Lalu kemana suara 3 menteri yang dulu September 2020 menuduh Anies Baswedan menyebabkan rontoknya ekonomi nasional karena melakukan penarikan rem darurat ? toh sekarang saat Anies belum melakukan penarikan rem darurat, ekonomi kita juga rontok !

Situasi sekarang memang sulit bagi Anies Baswedan untuk kembali melakukan penarikan rem darurat. Sulit bagi Pemprov DKI menentukan satu dari dua pilihan yang ada: PPKM atau PSBB. Apalagi, Pemprov DKI tak bisa serta merta membuat kebijakan sepihak. Anies harus berpikir panjang dan belajar pengalaman tahun lalu saat melakukan penarikan rem darurat. Anies tentu tidak mau kejadian terulang dimana dirinya sebagai gubernur langsung mendapat tekanan dari pemerintah pusat.

Lonjakan Angka Positif Covid-19 Harus Jadi Momentum Buat Anies

Sekarang yang bisa dilakukan oleh Anies adalah bagaimana lonjakan angka Covid-19 yang terjadi juni 2021 ini dijadikan momentum untuk memperkuat dan memperluas kolaborasi pemprov DKI dengan semua pihak termasuk dengan warganya. Anies perlu menaruh kepecayaan penuh kepada warganya bahwa warganya siap bahu membahu bersama pemprov DKI dalam menanggulangi lonjakan Covid-19 saat ini.

Terbukti, antusiasme warga DKI untuk mengikuti vaksinasi covid-19 cukup tinggi. Ini adalah modal sosial Anies untuk bisa lebih memperkuat dan memperluas kolaborasi bersama warga.  Situasi pandemi Covid-19 saat ini warga butuh keteladanan yang membuat warga percaya 100% kepada bahwa pemimpinnya hadir ditengah musibah wabah corona ini. Satu upaya yang bisa pemerintah lakukan untuk menekan laju penyebaran Covid-19 adalah dengan pengetatan pengawasan terhadap kegiatan warga. Dan ketika Anies melakukan pengawasan terhadap kegiatan warga, warga mematuhinya karena kesadaran dan keyakinan bahwa apa yang dilakukan pemimpin mereka adalah demi menyelamatkan nyawa mereka.

Kepercayaan yang tinggi warga DKI kepada Anies Baswedan inilah yang berhasil mensukseskan target Presiden Jokowi kepada DKI, maka bagi pendesak Anies agar melakukan penarikanrem darurat sebaiknya lebih mendorong Anies Baswedan untuk bisa mempertahankan sukses target vaksinasi yang diberikan Presiden Jokowi, dan juga ikut membantu mengingatkan kepada semua elemen masyarakat untuk terus mematuhi prokes sehingga lonjakan angka Covid-19 ini bisa segera teratasi.

Be the first to comment on "Anies Ditengah Deja Vu Lonjakan Covid-19"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


X