Menyoal Pergerakan Anti Rasis di Amerika Serikat Pasca Terbunuhnya George Floyd.

Source: Gregor Maclennon/Flickr
Source: Gregor Maclennon/Flickr

Oleh: Harsa Permata

Dosen Universitas Universal, Batam


Pergerakan anti rasis kembali membara di Amerika Serikat (A.S), hal yang sebenarnya sudah bertahun-tahun berlangsung. Hanya saja, mungkin tidak semua aksi perlawanan anti rasis di A.S mendapat sorotan berbagai media dengan skala yang besar, seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Dalam sejarah di A.S, tercatat banyak sekali organisasi dan tokoh yang memotori gerakan anti rasis di sana. Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya akan bahas beberapa yang mengemuka saja.

Yang pertama, adalah Nation of Islam, atau NOI. Sebagaimana dilansir situs republika.co.id, NOI didirikan oleh Wallace Fard Muhammad. Muhammad Ali sempat bergabung dengan NOI, karena kedekatannya dengan Elijah Muhammad, yang juga merupakan asisten dari Wallace Fard Muhammad. Tokoh NOI yang sangat populer adalah Malcolm X. Orientasi gerakan NOI adalah untuk memperjuangkan nasionalisme kulit hitam.

Kedua, adalah Black Panther, atau Partai Black Panther (Black Panther Party/BPP). Organisasi ini, sebagaimana ditulis Alvin Bahar dalam artikel “Mengenal Partai Black Panther, Organisasi Revolusioner yang Memperjuangkan Warga Kulit Hitam Amerika Serikat”, pada situs hai.grid.id, BPP didirikan pada tahun 1966, oleh Huey Newton dan Bobby Seale. BPP memperjuangkan kesetaraan hak orang kulit hitam dan melindungi warga dari brutalitas polisi dan rasisme.

Source: Gregor Maclennon/Flickr

Source: Gregor Maclennon/Flickr

Tokoh yang terkenal dari BPP adalah Wesley Cook alias Mumia Abu-Jamal, yang didakwa melakukan penembakan terhadap seorang polisi yang bernama Daniel Faulkner. Padahal, sebagaimana diulas oleh Amanda K. Cox, dalam Britannica.com, Abu Jamal, bersaksi bahwa dia bukanlah pelaku penembakan, sebaliknya, ia adalah korban brutalitas aparat kepolisian, dan ada orang lain yang melakukan penembakan terhadap Faulkner. Akan tetapi, dalam pengadilan, saksi yang dipakai kesaksiannya oleh pihak pengadilan hanyalah saksi memberatkan, yang mengklaim bahwa Abu-Jamal adalah pelaku penembakan. Sementara, saksi lain yang memiliki kesaksian sebaliknya, tidak bisa bersaksi.

Ketiga, adalah gerakan yang muncul beberapa tahun yang lalu, yaitu Gerakan Black Lives Matter, dan sekarang dipakai lagi sebagai slogan dalam berbagai demonstrasi memprotes brutalitas polisi terhadap George Floyd.

Gerakan ini muncul pada tahun 2013, sebagai reaksi atas terbunuhnya seorang remaja Afro-Amerika, yang berusia 17 tahun, Trayvon Martin, oleh seorang aparat kepolisian yang berkulit putih, George Zimmerman di Sanford Florida. Protes menyeruak ketika polisi pelaku pembunuhan malah dibebaskan dengan vonis tidak bersalah (Natasha Khairunisa Amani dalam liputan6.com).

Pada tahun 2020 ini, selain Gerakan Black Lives Matter, juga ada satu organisasi lain yang ikut serta dalam aksi-aksi, khususnya yang berujung bentrok dan disertai tindak kekerasan lainnya, seperti pembakaran ATM, pengrusakan property, berkelahi dengan polisi, dan lainnya. Organisasi tersebut dikenal dengan nama Antifa atau Anti-Fascist Action. Organisasi ini sepertinya terinspirasi oleh organisasi anti fasis, yang dibentuk oleh Partai Komunis Jerman, pada tahun 1932, yang bernama Antifaschistische Aktion (Edward S Kennedy dalam tirto.id) Antifa baru-baru ini dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh Donald Trump.

Persoalannya kemudian, gerakan anti rasis yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini, tak juga kunjung bisa melenyapkan rasisme di Amerika Serikat. Oleh karena itu, hal yang harus kita pahami adalah bahwa rasisme ini tidak muncul begitu saja. Sistem kapitalisme membutuhkan rasisme untuk membelokkan protes rakyat ke penguasa borjuis, menjadi saling bentrok sesama mereka.

Kaum kulit hitam, dalam sejarah, adalah orang-orang Afrika yang didatangkan oleh tuan tanah kulit putih ke Amerika Serikat, untuk dijadikan budak dan bekerja di ladang-ladang dan peternakan milik mereka.

Civil war, atau perang saudara antara kelompok anti perbudakan dan pro perbudakan, dalam sejarah Amerika Serikat, memang dimenangkan oleh kelompok utara yang anti perbudakan. Hanya persoalannya, kemenangan ini, tidak dengan serta merta menghilangkan watak rasis sebagian borjuis kulit putih Amerika Serikat.

Naiknya Donald Trump, adalah momen kebangkitan dari berbagai organisasi rasis di Amerika Serikat, yang menginginkan white supremacy (supremasi kulit putih). Sebagian pendukung militan Trump, adalah orang-orang dengan ideologi white supremacy ini. Kemenangan Donald Trump, yang diusung oleh Partai Republik, sebenarnya adalah akibat dari kegagalan Pemerintajan Demokrat, yang dipimpin oleh Barack Obama, dalam mengatasi krisis ekonomi.Amerika Serikat, adalah salah satu Negara yang terdampak krisis ekonomi global tahun 2008, hal yang ditandai dengan tingginya angka pengangguran, sampai sekitar 10%, hal disebabkan oleh hilangnya jutaan pekerjaan (Pablo Uchoa dalam bbc.com).

Lawan Trump, yaitu Calon Presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, bagi sebagian rakyat Amerika Serikat, dianggap sebagai bagian dari rezim lama, yang gagal. Karena itulah, Hillary gagal memenangi Pemilihan Presiden A.S tahun 2016. Hal ini terlihat dalam sebuah artikel yang ditulis oleh salah seorang aktivis, pembuat film documenter terkenal, Michael Moore, dalam situs michaelmoore.com. Di akhir artikel yang berjudul “5 Reasons Why Trump Will Win”, tersebut, Michael Moore mengisahkan bahwa ia bertemu seseorang yang berkata padanya “We have to vote for Trump. We HAVE to shake things up” (Kita harus memilih Trump, supaya lebih seru). Ini merupakan gambaran dari kesadaran sebagian rakyat Amerika Serikat, yang kecewa dengan Pemerintahan Demokrat Obama, akan tetapi, ingin perubahan, daripada Hillary, mereka lebih memilih Trump, yang mereka anggap bisa mengubah wajah politik Amerika Serikat.

Hasilnya adalah, Amerika Serikat di era Trump, menampilkan wajah asli dari kapitalisme yang buruk rupa. Sebagai seorang borjuis (pemilik modal) yang bukan kaleng-kaleng, Trump bersikap tegas, terhadap aksi-aksi yang sekiranya akan mengganggu keberlangsungan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam salah satu twitnya di twitter, beberapa waktu yang lalu,Trump menulis, “When the looting starts, the shooting starts”, jika penjarahan dimulai, maka penembakan juga dimulai. Artinya, baginya segala cara halal, bahkan walaupun harus menghilangkan nyawa manusia, asal modal dan aset kaum borjuis aman. Sikap para elit borjuis dari Partai Demokrat, seperti Nancy Pelosi dan Barack Obama, yang memberikan statement kontra terhadap kebijakan represif yang diambil Trump, sepertinya tidak akan begitu berpengaruh terhadap elektabilitas Joe Biden, Calon Presiden yang diusung Partai Demokrat dalam Pilpres A.S yang akan berlangsung tahun ini.

Oleh karena itu, hal utama, yang harus disadari oleh seluruh rakyat tak bermodal (proletariat), khususnya rakyat Amerika Serikat, bahwa rasisme tak akan hilang, selama sistem kapitalisme masih berdiri tegak. Oleh karena itu, metode perlawanan Antifa, yang hanya menciptakan kekacauan dan huru hara, tanpa inisiatif untuk mengubah tatanan sistem kapitalisme, seperti pola perlawanan yang diambil karakter Joker dalam Film “Joker”, tak akan mengubah apa-apa. Paling-paling hanya jadi headline di media-media, dan setelah itu hilang terlupakan, setelah Trump dan para elit borjuis pendukungnya berhasil meredam gejolak politik saat ini

Be the first to comment on "Menyoal Pergerakan Anti Rasis di Amerika Serikat Pasca Terbunuhnya George Floyd."

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


X